cHemIstry it's so real....!!!!!

Apa yaNg tidak Dapat DijElaskaN OLeh akaL sEhat daPAt dijeLAskAn OLeh ILmu pengEtaHuan,,,!!!

Dan ILmu I2 tidaK LAin Dan tidak Bukan aDalah Ilmu KImia... :)

Kamis, 19 Januari 2012

makalah Ilmu kealaman dasar ( Hutan )


TUGAS ILMU KEALAMAN DASAR
“HUTAN DI KOTA AMBON"






DISUSUN OLEH:
   NAMA  :ROCKY R. NIKIJULUW
   NIM      : 2010 -41- 020
   PRODY : PEND KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2011




KATA PENGANTAR

                                                                                                                            
     Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat TUHAN YANG MAHA ESA karena atas berkat dan rahmatnya,penulis dapat menyelesaikan tugas ini tanpa kurang suatu apapun.
    Adapun tugas ini kami buat hanya sebatas kemampuan kami,sehingga mungkin banyak terdapat banyak kesalahan dalam penulisan ini.untuk iitu saran dan kritik penulis terima demi menyempurnakan tugas ini.

















BAB I
PENDAHULUAN
1.    Latar belakang

  Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting.
Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar.
Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.
Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.[1]
Hutan memberikan pengaruh pada sumber daya alam lain melalui tiga faktor yang berhubungan, yakni iklim, tanah dan pengadaan air di berbagai wilayah. Apapun bentuk yang dimiliki hutan, pada hakekatnya hutan selalu merupakan perpaduan lima unsur pokok pembentuknya, yaitu bumi (tanah), air, alam hayati, udara dan sinar matahari. Tanpa adanya salah satu dari unsur-unsur tersebut, secara mutlak mengakibatkan tidak adanya hutan.
Hutan mempunyai fungsi ekologi yang penting. Fungsi Hidrologi hutan bersifat lokal dan regional dan Fungsi Pengaturan Iklim, khususnya pemanasan global dan sebagai sumberdaya hayati, bersifat global.Kerusakan hutan tidak saja merugikan secara fisik dan ekonomis, tetapi yang paling penting adalah terhadap keseimbangan ekonomi dan ekologi. Lingkungan hutan merupakan suatu ekosistem tertentu dengan fungsi tertentu pula, dimana di dalam ekosistem tersebut memiliki peran masing-masing. Apabila terjadi kerusakan, maka akan menggangu keseimbangan ekosistem di dalam hutan tersebut. Terganggunya keseimbangan ekosistem tersebut akan menyebabkan dampak ikutan terhadap seluruh sistem yang ada di dalam hutan tersebut.
Hutan yang kita umpamakan adalah hutan hujan tropis yang ideal, dimana biodiversitasnya tinggi. Sehingga fungsi hutan dapat mempunyai fungsi yang ideal seperti:
- sebagai paru-paru dunia
- sebagai sumber air (fungsi hidrologi)
- sebagai habitat flora dan fauna,
- sebagai sumber daya alam, yang mempunyai nilai ekonomi dan sosial, dll.

Untuk kasus ini kita akan mempelajari tentang hutan bakau/ mangrove di kota ambon.
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.
Mangrove mempunyai peranan ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat penting dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir. Kegiatan rehabilitasi menjadi sangat prioritas sebelum dampak negatif dari hilangnya mangrove ini meluas dan tidak dapat diatasi (tsunami, abrasi, intrusi, pencemaran, dan penyebaran penyakit).

2.    Pustaka (lokasi mana)
              Daerah desa tawiri










BAB II
 ISI

    Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Magrove dalam kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir sangat banyak sekali. Baik itu langsung dirasakan oleh penduduk sekitar maupun peranan, manfaat dan fungsi yang tidak langsung dari hutan mangrove itu sendiri.
    Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.
   Kawasan hutan mangrove yang merupakan objek penelitian berada pada desa Tawiri Kecamatan Teluk Ambon. Pesisir desa Tawiri terletak pada kawasan pesisir Teluk Ambon Luar (TAL). Kondisi lingkungan penelitian ini berada pada lingkungan pesisir dalam wilayah pasang surut. Desa Tawiri secara kewilayahan termasuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Ambon, dengan luas ±12 Ha, terbentang dari pesisir pantai sampai dengan daerah perbukitan. Secara geografis lokasi penelitian di sebelah Utara berbatasan dengan PT. DOK dan Perkapalan, di sebelah Selatan berbatasan dengan perkampungan desa Tawiri, sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Ambon bagian luar dan sebelah Barat berbatasan dengan perbukitan. Daerah ini memiliki pantai yang ditumbuhi oleh hutan mangrove dengan luas 3,08 ha yang dibatasi oleh dua buah aliran sungai yaitu Wai Lawa dan Wai Wesa.
    Berdasarkan hasil inventarisasi, tercatat lima (5) jenis mangrove: Avicennia alba, Bruguiera
gimnorhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba (Wattimury, 2003).
Famili Rhizophoraceae memiliki jumlah terbesar yang terdiri dari 2 genus dan 3 spesies. Hal ini didukung oleh tingkat kemampuan adaptasi morfologi dan anatomi dari Famili Rhizophoraceae yang lebih baik. Sedangkan famili-famili lainnya seperti Sonneratiaceae dan Verbenaceae hanya dengan satu genus saja. Spesies mangrove di lokasi penelitian, paling banyak didominasi oleh Sonneratia alba.
Secara umum, hutan mangrove desa Tawiri mempunyai fungsi dan manfaat adalah sebagai
berikut :
• Peredam gelombang dan angin laut, penahan dan perangkap sedimen
• daerah mencari makan (feeding grounds), daerah pemijahan
 (spawning grounds) bagi berbagai jenis ikan, kepiting, kerang dan biota laut lainnya.
• Penghasil kayu bakar, pemasok larva ikan, kepiting, kerang dan biota laut lainnya.
• Tempat hidup dan berkembang biak ikan, kepiting, kerang dan satwa liar lainya yang di antaranya endemik.
• Tempat praktek kerja lapangan dan penelitian bagi mahasiswa maupun pihak yang terkait.
Fungsi dan manfaat dari ekosistem mangrove ini, merupakan mata rantai utama dalam menopang keseimbangan ekosistem perairan pantai daerah ini.
            Identifikasi manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove di desa Tawiri, pada saat ini dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kategori manfaat, yaitu: manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat eksistensi.

Berdasarkan survei dan wawancara dengan para responden ditemukan bahwa bentuk-bentuk pemanfaatan di dalam maupun disekitar hutan mangrove selain dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar juga dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di dekat desa Tawiri.
Berdasarkan hasil wawancara, maka dapat diidentifikasi bentuk-bentuk pemanfaatan kawasan hutan mangrove, yaitu;
(1) aktivitas penangkapan,
(2) aktivitas pengumpulan kerang (bameti),
(3) aktivitas pembuangan sampah.

Manfaat langsung dari hutan mangrove desa Tawiri yang dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat terdiri atas 3 jenis manfaat yaitu,
(1) manfaat hasil hutan, berupa kayu bakar;
(2) manfaat penangkapan hasil perikanan, yaitu kepiting, kerang, ikan.



Jenis Manfaat
Nilai manfaat (Rp/ha/thn))
Total Biaya (Rp
Manfaat Bersih (Rp/ha/thn)
Persentase (%)
Kayu Bakar
1.440.000,00
120.000,00
1.320.000,00
18,22
Ikan
6.300.000,00
3.308.000,00
2.992.000,00
41,30
Kepiting
840.000,00
13.000,00
827.000,00
11,41
Kerang
1.440.000,00
6.000,00
1.434.000,00
19,79
Jumlah
11.347.500,00
4.103.000,00
7.245.000,00
100,00











      Manfaat Tidak Langsung (MTL)
Manfaat ini meliputi:
(1) manfaat fisik sebagai peredam gelombang; dan
(2)  manfaat biologis  sebagai tempat penyedia pakan (feeding ground).
            Pendekatan penilaiannya adalah dengan metode penggantian. Nilai manfaat fisik sebagai peredam gelombang diestimasi melalui pendekatan pembuatan breakwater. Menurut wawancara dengan salah seorang pegawai Dinas PU Propinsi Maluku, nilai pembuatan breakwater untuk ukuran 1m x 0,15 m x 1 m (p x l x t) dengan daya tahan 10 tahun adalah Rp 278.679,00. Berdasarkan panjang garis pantai ekosistem hutan mangrove desa Tawiri adalah 451 m, maka dibutuhkan breakwater sejumlah 225 buah. Nilai pembuatan breakwater untuk225 breakwater dengan daya tahan 10 tahun seluruhnya adalah Rp 62.702.775,00. Nilai tersebut dibagi dengan 10 tahun untuk mendapatkan nilai per tahun. Dengan demikian, nilai manfaat fisik hutan mangrove sebagai peredam gelombang (breakwater) adalah sebesar Rp 6.270.277,50/tahun. Nilai manfaat biologis sebagai sebagai tempat penyedia pakan (feeding ground


      Manfaat Pilihan
            Nilai manfaat pilihan didekati dengan menggunakan nilai dari keanekaragaman hayati(biodiversity). Nilai keanekaragaman hutan mangrove di Indonesia adalah US$ 1.500/km2/tahun atau US$ 15/ha/tahun (Ruitenbeek, 1991 dalam Fahrudin, 1996). Dengan nilai tukar Rupiah rata-rata terhadap Dollar yaitu Rp 9.200,00 (Juni, 2008), maka nilai manfaat pilihan hutan mangrove desa Tawiri saat ini sebesar Rp 138.000,00/ha/tahun dikalikan dengan luasan hutan mangrove 3,08 ha,maka diperoleh nilai manfaat sebesar Rp 425.040,00/tahun





BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan :
Mangrove mempunyai peranan ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat penting dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir,merupakan tempat hidup bagi organisme  laut (tempat bertelurnya ikan-ikan, kerang dan kepiting ), dan membantu masyarakat ( mencukupi kebutuhan hidup) serta melindungi daerah dari abrasi / gelombang ( menjaga garis pantai).

SARAN
Sebagai warga kota sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan hutan kita karna dapat menjadi tempat bernaung sekaligus tempat perlindungan anak cucu kita kelak.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar